Gambaran Puasa Seseorang Yang Sia-sia

“Barang siapa yang tidak berniat shaum pada malam hari sebelum fajar, maka tidak ada pahala baginya. (HR. Ahmad dan Ash Habus Sunan)

Kedudukan Niat.

  • Bertempur di medan perang melawan musuh, tapi niatnya hanya ingin disebut pahlawan, maka yang dilakukan tidak memiliki nilai apapun.
  • Menafkahkan seluruh harta kalau hanya disebut dermawan, juga tidak memiliki nilai apapun.
  • Mengumandangkan adzan setiap kali datang waktu sholat karena yang dituju bukan Alloh, tapi ingin memamerkan keindahan suara atau melalui adzannya mampu menggetarkan hati seseorang maka adzan itu nilainya hanya teriakan semata.
  • Dan lain-lain dapat dikembangkan sesuai dengan minat pekerjaan dan profesinya, kalau diniati bukan karena Alloh, maka nilainya berhenti sampai di niatnya tersebut. Maka kendati selama hidupnya dalam bekerja dan aktivitas bersimbah peluh dan berkuah keringat, menghabiskan tenaga, terkuras pikiran kalau tidak diniati semata-mata yang dilakukan hanya tertuju kepada zat Yang Maha Mencipta dan Maha Kekal, maka tidak ada nilainya setelah hidup sesudah mati nantinya.

Di sini menunjukkan pentingnya kedudukan niat. Jadi niat adalah pangkal ibadah. Seseorang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada dalam hatinya, berarti ia sedang bersiap-siap untuk membuang waktu, tenaga, harta ataupun pikiran, hasilnya tanpa arti dan tanpa nilai sama sekali.

“Sesungguhnya amal-amal itu harus dengan niat dan sesungguhnya setiap amal seseorang tergantung niatnya…..” (HR. Bukhari & Muslim)

Untuk itu selama aktivitas, selama kegiatan dan selama pekerjaan yang sudah menjadi bakat dan profesi diniati sebagai amal ibadah supaya menjadi nilai yang bermakna baik di dunia terlebih di akhirat (kehidupan kembali setelah hidup di dunia ini mengalami kematian). Karena niat sebagai pangkal ibadah yaitu yang dilakukan hanya tertuju kepada Alloh itulah yang disebut dengan ikhlas.

Leave a Reply