Kewiraswastaan Dalam Pendidikan

Banyak ahli berpendapat bahwa di masa datang, banyak sekolah swasta yg maju dan kualitasnya lebih baik dibanding sekolah negeri. Pada saat itu, jika ingin maju sekolah negeri harus dikelola secara professional dan tidak bergantung kepada arahan kebijakan dan alokasi dana dari pemerintah. Dengan kata lain, sekolah negeri harus mampu “mandiri” seperti sekolah swasta. Oleh karena itu kepala sekolah harus mampu memahami prinsip kewiraswastaan, kemudian menerapkannya dalam mengelola sekolah.

1. Apakah arti wiraswasta?
Wiraswasta adalah sikap dan perilaku dalam memimpin dan mengelola suatu organisasi (termasuk sekolah) dengan selalu mencari dan menerapkan cara kerja dan teknologi baru sehingga dicapai efektivitas dan efisiensi yang tinggi.

2. Apakah ciri-ciri orang yang memiliki jiwa wiraswasta?
Ada tujuh ciri orang yang memiliki jiwa wiraswasta, yaitu (a) percaya diri, (b) berpikiran positif, (c) berorientasi pada hasil, (d) berani mengambil resiko, (e) memiliki jiwa kepemimpinan, (f) berpikiran orisinal, (g) berorientasi ke masa depan.

a. Percaya diri. Dalam melakukan sesuatu pekerjaan mereka yakin akan mampu mengerjakannya. Dengan modal itu mereka bekerja dengan tenang, optimis, dan tidak dihantui oleh rasa takut gagal.

b. Berpikiran positif. Jika menghadapi suatu masalah atau kejadian atau bahkan ketemu seseorang selalu melihat aspek positifnya. Dengan demikian dia selalu melihat peluang untuk memanfaatkan aspek tersebut untuk mendukung kegiatan/usaha yang dilaksanakan.

c. Berorientasi pada hasil. Dalam melaksanakan tugas mereka selalu berorientasi pada hasil. Hambatan tidak membuat mereka menyerah, tetapi justru menjadi tertantang untuk mengatasi, sehingga mencapai hasil seperti yang direncanakan.

d. Berani mengambil resiko. Banyak tugas yang memiliki resiko, baik resiko terhadap kecelakaan, resiko kegagalan, dan resiko akan mengalami rugi. Dalam melaksanakan tugas orang berjiwa wiraswasta tidak takut gagal atau merugi, sehingga tidak takut melakukan pekerjaan, meskipun bersifat baru.

e. Berjiwa pemimpin. Dalam mengerjakan tugas selalu ingin mendayagunakan orang yang ada di sekitarnya dan membimbing mereka. Jika timbul persoalan, selalu tampil ke depan untuk mencari pemecahan dan tidak membebankan atau menyalahkan orang lain.

f. Berpikiran orisinal. Artinya selalu punya gagasan-gagasan baru, baik untuk mendapatkan peluang maupun mengatasi masalah yang timbul. Dengan kata lain selalu kreatif dan inovatif.

g. Berorientasi ke masa depan. Meskipun tetap menggunakan pengalaman masa lalu sebagai referensi, tetapi orang yang berjiwa wiraswasta selalu berpikir bagaimana situasi dan kondisi di masa depan. Dan berdasarkan prediksi tersebut mereka mencari peluang untuk memajukan pekerjaan/usahanya.

3. Melihat ciri-ciri tersebut, apakah kepala sekolah negeri perlu memiliki jiwa wiraswasta? Bukankah segala langkah sekolah negeri sudah ditetapkan dari atas?

Di situlah pentingnya pemahaman tugas sebagai kepala sekolah. Kebijakan dari pemerintah harus ditafsirkan sebagai kebijakan umum, sedangkan bagaimana mengoperasionalkan kebijakan tersebut agar hasilnya maksimal perlu kiat-kiat yang mirip dengan mengelola sekolah swasta. Misalnya, jika dana SPP dan dari pemerintah terbatas, sementara kegiatan yang harus dilaksanakan cukup banyak, kepala sekolah perlu mencari peluang mendayagunakan potensi masyarakat sekitar, baik berupa tenaga, maupun dana. Bukankah itu mirip dengan mengelola sekolah swasta?

Perlu disadari bahwa di masa datang, di saat kondisi ekonomi masyarakat semakin baik, ketika orang tua tidak disibukkan oleh kebutuhan makan, sandang, papan, maka sekolah akan menjadi unit layanan masyarakat yang sangat diperlukan. Jika kualitasnya baik, orang tua akan bersedia membayar atau berperan aktif di sekolah, karena yakin anaknya akan mendapat pendidikan yang baik. Di situlah pentingnya kiat wiraswasta kepala sekolah, untuk mencari jalan meningkatkan kualitas sekolah agar masyarakat mempercayai dan ingin memasukkan anaknya.

4. Melihat ciri-ciri tersebut, tampaknya kewiraswastaan lebih banyak terkait dengan aspek sikap. Nah, apakah hal itu dapat dipelajari?

Benar bahwa kewiraswastaan banyak terkait dengan sikap, tetapi harus diingat bahwa sikap juga terkait dengan pemahaman. Meskipun relative agak sukar tetapi masalah kewiraswastaan dapat dipelajari. Banyak bukti menunjukkan hal itu. Orang yang berasal dari keluarga wiraswasta sering kali lebih “pandai” berwiraswasta, karena sejak kecil berada di lingkungan wiraswasta, sehingga secara langsung maupun tidak langsung sudah belajar tentang seluk beluk berwiraswasta. Jadi factor belajar tetap kuat dalam membentuk kemampuan berwiraswasta.

5. Bagaimana tahapan belajar kewiraswastaan yang efektif?

Belajar berwiraswasta pada dasarnya dimulai dari mengembangkan ketujuh ciri wiraswastawan pada diri kita. Berikut ini cara-cara untuk menumbuhkannya.

a. Sikap percaya diri. Untuk menumbuhkan sikap percaya diri, kita harus memahami tugas kita dengan baik. Jadi sebagai kepala sekolah, harus mempelajari seluk beluk sekolah dan bagaimana mengelolanya. Jika perlu belajar kepada orang lain yang telah sukses mengelola sekolah.

b. Mengembangkan pikiran pisitif, dapat dimulai dengan meyakini bahwa setiap orang dan kejadian dapat memberi manfaat pada kita. Sebagai contoh jika ada tawuran di sekolah kita (kejadian yang tentu tidak diharapkan), dapat dicari sisi positifnya, misalnya keberadaan sekolah dikenal masyarakat (meskipun jelek). Nah, dengan tawuran itu ada kesempatan bagi kepala sekolah menyampaikan informasi tentang sekolah, lewat Koran atau media lainnya. Setahun kemudian informasi tersebut diulang untuk menunjukkan bahwa sekolah sudah aman, dan kualitasnya telah meningkat.

c. Pantang menyerah dan berorientasi pada hasil. Tanamkan pada hati, bahwa tugas sebagai kepala sekolah adalah bagian dari hidup dan masa depan. Keberhasilan mengelola sekolah berarti membuka masa depan yang lebih baik. Hidari pikiran bahwa “toh sekolah bukan milik kita”.

d. Belajar bagaimana cara mengambil resiko. Resiko itu dapat diperhitungkan sebelum tindakan dilakukan. Belajarlah teknik-teknik mengambil resiko (risk taking), yaitu dengan menganalisis berbagai kemungkinan yang dapat terjadi (resiko) dengan langkah yang dilakukan. Kemudian persiapkan tindakan yang dilakukan jika resiko itu benar-benar terjadi. Jika perlu minta bantuan ahli untuk melakukan analisis itu.

e. Mengembangkan sikap kreatif dan inovatif. Jangan tenggelam ke dalam pekerjaan rutin. Bagi habis tugas-tugas rutin kepada staf, sehingga kepala sekolah punya waktu untuk merenung, mencari ide-ide kreatif. Tanamkan keyakinan bahwa kejadian tidak selalu linier dan yakini setiap masalah tentu ada jalan keluarnya. Pelajari alam sekitar untuk menemukan analogi kejadian yang sedang dihadapi.

f. Berpikir ke depan. Selalu ingat bahwa yang kita hadapi adalah masa depan. Oleh karena itu buatlah prediksi-prediksi tentang kondisi di masa depan yang terkait dengan tugas sebagai kepala sekolah. Dari prediksi tersebut buatlah rencana mengembangkan sekolah.

6. Bagaimana menerapkan pola kewiraswastaan di sekolah.
Jika ingin sukses menerapkan pola kewiraswastaan di sekolah, maka kepala sekolah, guru, dan seluruh staf lain harus berpikir wiraswasta. Oleh karena itu, kepala sekolah harus mengajari dan membimbing guru dan staf untuk memahami dan mengembangkan ketujuh sikap kewiraswastaan pada butir nomor 2. Tentu disesuaikan dengan tugasnya maisng-masing. Di samping itu, sebagai sekolah negeri yang “akan” menerapkan pola piker kewiraswastaan, kepala sekolah harus meyakinkan seluruh staf tentang hal-hal:
a. Sekolah adalah “lahan garapan bersama”. Maju mundurnya sekolah menjadi tanggung jawab bersama. Jika sekolah maju, maka kemajuan itu menjadi “milik bersama”, artinya semua mendapat manfaat dalam segala bentuknya.
b. Sekolah menerapkan manajemen terbuka dan akan memberikan tugas/kepercayaan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki staf.

Leave a Reply