suku padang

Masyarakat Multikultural di Indonesia (bagian 1)

Wahai semua sobat jejaring di Indonesia, bagi kalian yang ingin mengenal lebih jauh tentang masyarakat Indonesia ada berapa macam seh….? Ada berapa suku juga di Indonesia ini? Nah, simak beberapa artikel berikut yang membahas tentang multikultural masyarakat di Indonesia. Pembahasan ini akan kami posting secara bertahap agar kalian gak jemu membacanya. Kita bahas per pulau ya, agar lebih mudah memahaminya.

A. Di Pulau Sumatra

1. Suku Bangsa Batak di Sumatra Utara

suku batak

Masyarakat Batak Angkola dan Mandailing mayoritas beragama Islam, sedangkan Batak Karo, Pak-Pak, Simalungun dan Toba mayoritas beragama Kristen Protestan. Selain kedua agama tersebut, orang Batak juga mempunyai kepercayaan pada makhluk halus. Mereka percaya alam semesta isinya diciptakan oleh Dibata Kaci-kaci (Karo) atau Debata Mulajadi, Na Bolon (Toba) yang bertempat tinggal di langit dan mempunyai nama bermacam-macam sesuai dengan tugas dan kedudukannya.

Masyarakat Batak mengenal tiga konsep jiwa dan roh yaitu tondi, sahala, dan begu.

  1. Tondi, merupakan jiwa atau roh seseorang dan sekaligus sebagai kekuatan yang sudah diterima sewaktu dalam rahim.
  2. Sahala, merupakan jiwa atau roh kekuatan dari seseorang yang dapat menemukan jalan hidup selanjutnya.
  3. Begu, adalah roh jiwa orang yang meninggal. Kecuali begu nenek moyang yang dihormati, mereka juga percaya adanya umang dan jangkak yaitu makhluk halus yang dianggap suka menolong manusia.

Mengenai sistem kekerabatan, orang Batak menghitung hubungan keturunan berdasarkan prinsip keturunan patrilineal yaitu suatu kelompok kekerabatan yang dihitung melalui garis keturunan pria atau ayah. Kelompok kekerabatan terkecil adalah keluarga Batih atau Ripe (Toba), Jabu (Karo). Sedangkan kelompok kekerabatan yang besar pada orang Batak disebut Merga (menurut orang Karo) atau Marga (menurut orang Toba). Pada suku Batak, adat istiadat masih cukup kuat misalnya upacara adat perkawinan, upacara adat kematian dan sebagainya.

2. Suku Bangsa Minangkabau di Sumatra Barat

suku padang

Suku Minangkabau lebih dikenal sebagai orang Padang. Daerah Minangkabau meliputi wilayah seluas Provinsi Sumatra Barat. Secara tradisional daerah darat dianggap sebagai asal kebudayaan atau daerah adat kebudayaan Minangkabau. Daerah darat tersebut meliputi 3 luhak atau Kabupaten yaitu: Tanah Datar, Agam, dan Lima Puluh Kota. Suku Minangkabau mayoritas beragama Islam dan merupakan penganut agama Islam yang taat.
Mengenai sistem kekerabatan, suku Minangkabau menganut garis keturunan matrilineal yaitu seseorang akan masuk garis keturunan keluarga ibunya. Kepentingan suatu keluarga diurus oleh seorang laki-laki dewasa dan keluarga tersebut yang bertindak sebagai ninik mamak (saudara laki-laki dari ibu). Dalam perkawinan masyarakat Minangkabau sebenarnya tidak dikenal tentang mas kawin, tetapi dikenal adanya uang jemputan yaitu pemberian sejumlah uang atau barang dari pihak keluarga pengantin perempuan kepada keluarga mempelai laki-laki. Sesudah upacara perkawinan di rumah pengantin perempuan, suami menumpang tinggal di rumah istrinya.

suku minangkabau
Dalam sistem kemasyarakatan pada masyarakat Minangkabau terdapat 3 kelompok kekerabatan yaitu Paruk, Kampung, dan Suku. Suku dipimpin oleh seorang penghulu suku, sedangkan Kampung dipimpin oleh seorang penghulu Andiko atau Datuk Kampung. Penghulu Suku dibantu oleh Dubalang (keamanan) dan Manti (keagamaan). Jabatan penghulu suku ada yang bersifat turun temurun tetapi ada pula yang berdasarkan pemilihan.
Perbedaan lapisan sosial menurut konsepsi orang Minangkabau sebagai berikut:

  1. Urang asa, adalah keluarga yang mula-mula sekali datang (orang asal) dan dianggap bangsawan serta kedudukannya paling tinggi.
  2. Kemenakan tali paruik, adalah keturunan langsung dari urang asa.
  3. Kemenakan tali budi, adalah orang-orang yang datang ke wilayah urang asa, dan karena asalnya juga mempunyai kedudukan yang cukup tinggi dan mampu membeli tanah di tempat yang baru, maka kedudukannya juga dianggap sederajat dengan urang asa.
  4. Kemenakan tali ameh, adalah pendatang-pendatang baru yang mencari hubungan dengan keluarga urang asa melalui perkawinan tetapi tidak tergantung pada keluarga urang asa.

Pada saat ini, sistem pelapisan sosial tersebut boleh dikatakan sudah hilang dan ganti bentuk yang lain yaitu sistem pelapisan yang tidak terikat pada tanah tetapi pada sektor lain yang dapat mengangkat derajat mereka seperti perdagangan. Mengenai kepemimpinan tidak terikat adanya pola yang jelas.

Secara adat sistem pemerintahan di Minangkabau dibedakan menjadi 2 sistem yaitu:

  1. Laras Bodi Chaniago, dihubungkan dengan tokoh legendaris Datuak Parapatiah nan Sabatang.
  2. Lara Kota Piliang, dihubungkan dengan tokoh Datuak Katumanggungan.

Mengenai sistem pembagian warisan, diturunkan melalui garis ibu dan yang berhak menerimanya adalah anggota perempuan dari suatu keluarga. Anggota keluarga laki-laki berkewajiban mengawasi harta tersebut dan memberikan manfaat bagi kaum kerabatnya. Dalam perekonomian sebagian besar masyarakat Minangkabau bermata pencaharian bertani namun orang Minangkabau juga terkenal sebagai perantau dan pedagang yang ulet. Itulah sebabnya mereka disebut sebagai orang yang pandai berdagang/padang.

B. Di Pulau Jawa

1. Suku Bangsa Betawi di Jakarta

suku betawi

Suku bangsa Betawi menempati wilayah Jakarta. Menurut sejarah, VOC didirikan pada tahun 1602 di Banten, kemudian tahun 1610 pusat pemerintahannya dipindahkan ke Jayakarta. Di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal JP Coen dibangun kota Batavia. Selanjutnya kota tersebut mengalami kemajuan yang pesat sehingga dari tahun ke tahun semakin banyak pendatang yang menetap di Batavia.
Bertambahnya pendatang dari Jawa (Jawa Tengah dan Jogja) membawa pengaruh yang cukup besar terhadap pola kehidupan masyarakat Betawi baik bahasa, musik, tari, teater dan sebagainya. Penduduk Betawi pada umumnya memeluk agama Islam walaupun penganut Kristen dan agama lainnya juga ada. Mata pencaharian suku bangsa Betawi antara lain berdagang, pentas seni, bercocok tanam, dan menangkap ikan di laut.

2. Suku Bangsa Sunda di Jawa Barat

suku sunda

Suku bangsa Sunda mendiami tanah Pasundan dan Tatar Sunda yang dibatasi oleh bagian Timur Jawa Barat yaitu sungai Cilosari dan sungai Citandui. Berdasarkan etnografis yang disebut suku Sunda adalah suku bangsa yang secara turun temurun menggunakan bahasa ibu yaitu bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Sunda yang dianggap masih murni dan halus adalah bahasa yang digunakan di Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Sumedang, Sukabumi, dan Cianjur. Kebanyakan orang Sunda disebut orang Priangan.
Mengenai sistem perekonomian di Jawa Barat sudah cukup kompleks, yang dapat dikelompokkan menjadi 3 unit sosial sebagai pusat kehidupan ekonomi yaitu kota, desa, dan perkebunan. Sedangkan mengenai agama dan kepercayaan sebagian besar orang Sunda menganut agama Islam dan masih memiliki kepercayaan yang kuat terhadap mitos dan takhayul terutama masyarakat yang berada di pedesaan. Sistem kekerabatan masyarakat Sunda bersifat bilateral. Sedangkan mengenai struktur sosialnya mirip dengan suku Jawa yang susunan masyarakatnya secara bertingkat. Lapisan atas merupakan golongan bangsawan, sedangkan lapisan bawah adalah golongan wong cilik seperti petani, tukang, pekerja kasar dan sebagainya.

3. Suku Bangsa Jawa di Yogyakarta dan Jawa Tengah

suku jawa

Suku bangsa Jawa adalah suku bangsa yang mendiami pulau Jawa bagian tengah dan timur seperti Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang, dan Kediri. Daerah yang merupakan pusat kebudayaan Jawa adalah daerah Yogyakarta dan Surakarta yang merupakan bekas kerajaan Mataram. Dengan luasnya daerah yang didiami orang-orang suku Jawa, maka dapat terlihat variasi dan perbedaan-perbedaan seperti istilah teknis, dialek bahasa dan perbedaan tersebut bersifat lokal.
Bahasa yang dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari adalah bahasa Jawa. Berbicara dengan bahasa Jawa ada perbedaan-perbedaan sesuai dengan tingkatan orang yang diajak berbicara, berdasarkan umur dan status sosialnya. Dalam susunannya, bahasa Jawa dibedakan menjadi 2 yaitu Jawa Ngoko dan Jawa Krama.

  1. Bahasa Jawa Ngoko, yaitu bahasa yang dipergunakan dalam berbicara antara orang yang sudah dikenal akrab serta orang yang usianya lebih tua kepada yang lebih muda.
  2. Bahasa Jawa Krama, yaitu bahasa yang dipergunakan dalam percakapan di keraton antara para bangsawan dan juga untuk orang yang status sosialnya lebih tinggi. Bahasa Jawa Krama lebih halus dibanding dengan Bahasa Jawa Ngoko.

Pada sistem agama dan kepercayaan, sebagian besar masyarakat suku Jawa adalah penganut agama Islam. Di daerah tertentu sebagian kecil menganut agama Kristen dan Katholik dan sebagian kecil lagi menganut agama Hindu dan Budha. Pada masyarakat suku Jawa masih ada yang mempercayai adanya kekuatan yang disebut kasekten, juga adanya roh-roh halus yang ada di sekitar tempat tinggal manusia sehingga agar terhindar dari gangguan roh halus atau ingin mencapai kesuksesan maka seseorang harus prihatin, berpuasa, berpantang, memberikan sesaji dan selamatan.
Mengenai sistem kekerabatan, suku Jawa menggunakan prinsip keturunan bilateral atau parental. Beberapa istilah kekerabatan yang menunjukkan sistem klasifikasi menurut angkatan:

  1. Siwa atau uwa, adalah sebutan untuk laki-laki serta kakak perempuan beserta suami dan istrinya dari ayah dan ibu.
  2. Paman adalah sebutan untuk adik laki-laki dari ayah dan ibu.
  3. Bibi adalah sebutan untuk adik perempuan dari ayah dan ibu.

Pada sistem perkawinan, tidak diperbolehkan perkawinan antara saudara sekandung, antara saudara misan yang ayahnya adalah anggota sekandung, atau perkawinan antara saudara misan yang ibunya sekandung juga perkawinan antara saudara misan yang laki-laki menurut ibunya lebih muda dari pihak perempuan. Dalam proses menjelang pernikahan, diawali terlebih dahulu dengan prosesi pelamaran, sistem perkawinan ngenger, triman, dan ngunggah-unggahi.
Untuk menetapkan tempat tinggal setelah pernikahan, pengantin baru bisa memilih tinggal di sekitar rumah kerabat mempelai laki-laki (utrolokal) atau sebaliknya tinggal di sekitar rumah kerabat mempelai wanita (uxorilokal). Namun mereka akan merasa bangga bila bisa memilih tempat tinggal baru terlepas dari tempat tinggal mempelai laki-laki atau perempuan (neolokal).
Mengenai sistem kemasyarakatan, masih terdapat pembedaan antara golongan priyayi yang terdiri dari kaum terpelajar, pegawai, dan bangsawan yang merupakan lapisan atas dan golongan wong cilik yang menjadi lapisan bawah. Lapisan wong cilik dapat dibedakan atas 3 golongan sebagai berikut:

  1. Golongan lapisan wong baku, yaitu keturunan orang-orang yang pertama datang dan menetap di desa.
  2. Golongan lapisan kuli gandok atau lindung, yaitu kelompok laki-laki yang telah kawin tetapi masih menetap ikut di rumah mertuanya.
  3. Golongan lapisan joko, sinoman atau bujangan, yakni golongan anak-anak muda yang belum menikah.

Mengenai mata pencaharian, masyarakat suku Jawa sebagian besar adalah petani dan tinggal di pedesaan. Dalam mengerjakan tanah pertanian ada yang di sawah maupun tegalan/lahan kering. Mata pencaharian lain yaitu bekerja sebagai buruh tani (buruh macul, nggaru, matun). Ada pula yang meminjamkan uang untuk usaha pertanian dengan sistem adol oyodan, ijon, maro atau mertelu. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai pegawai, pedagang, tukang dan sebagainya.

Demikian artikel kali ini, masih ada kelanjutannya lho ya…. 🙂 untuk Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua belum kami bahas. Tunggu artikel terkait ya. Terima kasih sudah menyimak.