suku bali

Masyarakat Multikultural di Indonesia (bagian 2)

Hai….sobat jejaring semua…… apa kabar kalian hari ini? Sehat? Tetap semangat ya…. ­čÖé Melanjutkan artikel sebelumnya yaitu tentang Masyarakat Multikultural di Indonesia, kali ini saya menyajikan tentang Suku Bali dan Suku Dayak. Nah, bagi kalian yang ingin tahu lebih banyak tentang mereka selamat membaca.

C. Di Pulau Bali

 1. Suku Bangsa Bali di Pulau Bali

suku bali

Suku bangsa Bali menempati pulau Bali. Orang Bali dikenal memiliki etos yang tinggi di bidang kesenian terutama seni lukis, seni pahat, seni tari dan seni arsitektur. Suku Bali dikenal sebagai penganut agama Hindu yang taat melaksanakan kewajiban sembahyang sesuai ajaran agamanya. Hal tersebut nampak pada pelaksanaan upacara-upacara ritual keagamaan, penataan lingkungan pemukiman, rumah adat, rumah ibadah/pura. Pulau Bali juga dikenal dengan sebutan pulau Dewata.

Mengenai agama dan kepercayaan masyarakat Bali, sebagian menganut agama Hindu-Bali namun ada pula golongan kecil masyarakat Bali yang menganut agama Islam seperti yang terdapat di daerah Karangasem, Klungkung, dan Denpasar. Penganut agama Kristen dan Katholik juga ada terutama di Denpasar, Jembrana dan Singaraja. Dalam agama Hindu, mereka percaya adanya satu kesatuan dewa dalam konsep Trimurti, yaitu:

  1. Wujud Brahma, artinya yang menciptakan.
  2. Wujud Wisnu, artinya yang melindungi dan memelihara.
  3. Wujud Siwa, artinya yang melebur segala yang ada.

 Tempat melakukan ibadah di Pulau Bali disebut Pura. Pura merupakan satu kompleks bangunan suci yang mempunyai sifat berbeda antara lain sebagai berikut:

  1. Bersifat umum, artinya untuk semua golongan (Pura Besakih).
  2. Yang berhubungan dengan kelompok sosial setempat (pura desa/kayangan tiga).
  3. Yang berhubungan dengan organisasi dan kumpulan khusus (subak dan seka, kumpulan tari, dan sebagainya).
  4. Merupakan tempat pemujaan leluhur.

Di Bali terdapat 5 macam upacara (panca yadnya) yang didasarkan pada salah satu dari kedua sistem penanggalan (tanggalan Hindu-Bali dan tanggalan Jawa-Bali). Upacara tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Manusia Yadnya, merupakan upacara yang meliputi siklus dari masa kanak-kanak sampai dewasa.
  2. Pitra Yadnya, merupakan upacara yang ditujukan kepada roh-roh leluhur yang meliputi upacara-upacara kematian sampai pada upacara penyucian roh leluhur (nyekah memukuh).
  3. Dewa Yadnya, merupakan upacara dengan upacara-upacara pada kuil-kuil umum dan keluarga.
  4. Buta Yadnya, merupakan upacara dengan upacara-upacara kepada kala dan buta yaitu roh-roh halus yang dapat mengganggu.

upacara yadnya bali

Mengenai sistem kekerabatan di Bali, dimulai dari perkawinan merupakan peristiwa penting dalam kehidupan orang Bali karena sudah dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat dan memperoleh hak-hak serta kewajiban seorang warga komunitas maupun warga kelompok kerabat.

Pada adat masyarakat Bali yang masih kolot mengusahakan agar perkawinan dilakukan dengan orang-orang yang sama derajatnya (tunggal kawin, tunggal dadia, dan tunggal sanggah). Apabila sesudah menikah mereka tinggal di rumah keluarga suami atau membangun rumah baru, maka anak-anak dan keturunan selanjutnya akan diperhitungkan patrilineal (purusa) dan menjadi dadia si suami. Sedangkan apabila sesudah menikah mereka tinggal di rumah si istri maka keturunan mereka diperhitungkan secara matrilineal dan menjadi warga dadia si istri.

Selain kelompok-kelompok kerabat yang didasarkan pada prinsip keturunan, ada pula bentuk kesatuan sosial yang didasarkan atas kesatuan wilayah yaitu desa. Kesatuan sosial tertentu merupakan kesatuan yang diperkuat oleh kesatuan adat upacara keagamaan yang keramat.

Kesatuan-kesatuan sosial di Bali dapat dibedakan sebagai berikut:

  1. Desa-desa adat di pegunungan, biasanya bersifat lebih kecil dan keanggotaannya terbatas pada orang asli yang lahir di desa itu juga. Sesudah menikah orang tersebut langsung menjadi warga desa adat (karma desa) dan mendapat tempat duduk yang khas di balai desa yang disebut bale agung dan mengikuti rapat-rapat desa yang diadakan secara teratur.
  2. Desa-desa di tanah datar, biasanya bersifat besar dan meliputi daerah yang luas. Sifat keanggotaannya tidak tertutup dan tidak terbatas pada orang asli yang lahir di dalam Banjar. Pusat bertemunya warga Banjar untuk mengadakan rapat pada hari-hari tetap yang disebut Bale Banjar.
  3. Subak, merupakan suatu badan dan pengatur air sawah, juga merupakan suatu badan hukum adat, suatu badan perencana aktivitas pertanian dan suatu kelompok keagamaan. Kepala Subak disebut Sedahan Agung.
  4. Seka, merupakan organisasi yang bergerak dalam lapangan hidup yang khusus misalnya perkumpulan tari baris (seka baris), perkumpulan para pemuda (seka truna), perkumpulan para gadis (seka daha), perkumpulan menanam (seka memula), perkumpulan menuai (seka manyi), perkumpulan gamelan (seka gong) dan sebagainya. Adapun fungsi seka adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara-upacara yang berkenaan dengan desa.

Mengenai mata pencaharian pokok orang Bali adalah bertani. 70% berpenghidupan dari bercocok tanam, sedangkan yang 30% hidup dari peternakan, buruh, pegawai, dan lain-lain. Dalam mengolah tanah selain bercocok tanam di sawah terdapat juga usaha penanaman buah-buahan (jeruk, salak), kelapa, dan kopi. Usaha peternakan di Bali terutama babi dan sapi. Ada pula masyarakat Bali yang mengusahakan perikanan baik perikanan darat maupun perikanan laut. Ada pula industri dan kerajinan rumah tangga yang dapat menarik para wisatawan domestik maupun mancanegara seperti kerajinan anyaman, kain, tenun, patung, industri brem dan lain-lain.

D. Di Pulau Kalimantan

1. Suku Bangsa Dayak di Kalimantan Tengah

suku dayak

Suku Dayak menetap di pedalaman pulau Kalimantan. Sebutan Dayak dalam bahasa orang Melayu artinya orang gunung. Secara ras suku bangsa Dayak termasuk ras Proto Melayu atau Melayu Tua. Suku Dayak dapat dikelompokkan ke dalam sub-sub sebagai berikut.

  1. Suku bangsa Punan, menetap di pedalaman Kalimantan Tengah. Cara hidup mereka berpindah-pindah dari satu hutan ke hutann lain.
  2. Suku bangsa Ola Ngaju dan Ola Ot, menetap di pedalaman Kalimantan Tenggara.
  3. Suku bangsa Dayak Kanya, menetap di pedalaman Kalimantan Utara sampai daerah pesisir.
  4. Suku bangsa Dayak Maya’an/Siung, menetap di pedalaman Kalimantan Selatan di sepanjang sungai Siuang (anak sungai Barito).
  5. Suku-suku Dayak lainnya yang menyebar di pedalaman seperti Dayak Kenyah, Ot Danum, Iban dan lain-lain.

Mengenai kepercayaan penduduk provinsi Kalimantan Tengah dibagi menjadi 4 golongan yaitu golongan Islam yang merupakan golongan terbesar, golongan pribumi, golongan Kristen dan golongan Katholik. Agama asli penduduk pribumi adalah agama Kaharingan. Kaharingan diambil dari Danum Kaharingan yang berarti air kehidupan. Umat Kaharingan percaya bahwa pada lingkungan sekitarnya penuh dengan makhluk halus dan roh-roh yang menempati tiang rumah, batu besar, pohon besar, hutan belukar, air, dan sebagainya. Kepercayaan umat Kaharingan dapat dilihat dari upacara-upacara yang dilakukan seperti upacara menyambut kelahiran anak, upacara memandikan bayi untuk pertama kali, upacara memotong rambut bayi, upacara mengubur dan upacara pembakaran mayat.

Sistem kekerabatan orang Dayak Kalimantan Tengah didasarkan pada prinsip keturunan ambilineal, yang memperhitungkan hubungan kekerabatan melalui laki-laki dan perempuan. Perkawinan yang dianggap ideal dan diingini oleh suku Dayak adalah perkawinan antara dua orang bersaudara sepupu yang kakek-kakeknya masih saudara sekandung yang disebut hajengan, dan perkawinan antara dua orang saudara sepupu yang nenek-neneknya masih saudara sekandung dan diantara anak-anak saudara laki-laki ibu, atau anak-anak saudara perempuan ayah (cross-cousin).

perkawinan suku dayak

Mengenai hukum adat pada masyarakat Dayak terkenal sebagai perdamaian tumbang anoi yaitu garis-garis hukum adat yang menjadi pedoman bagi seluruh orang Dayak di Kalimantan Tengah hasil musyawarah kepala-kepala adat dan demang-demang. Sanksi hukum adat yang tidak tertulis tersebut kebanyakan berupa pemberian ganti rugi dengan maksud untuk mengembalikan keseimbangan ketenangan masyarakat yang dikacaukan kejahatan.

Mengenai mata pencaharian orang Dayak antara lain berladang, berburu, mencari hasil hutan, mencari ikan, dan menganyam. Dalam pengerjaan ladang, masyarakat Kalimantan menggunakan siklus sebagai berikut:

  1. Pada bulan Mei, Juni dan Juli orang menebang pohon-pohon di hutan. Setelah penebangan, batang-batang kayu, cabang-cabang, ranting-ranting serta daun-daunnya dibiarkan mengering selama dua bulan.
  2. Pada bulan Agustus atau September seluruh batang, cabang, ranting dan daun-daunnya dibiarkan mengering. Selanjut daun harus dibakar dan bekas pembakaran dibiarkan sebagai pupuk.
  3. Pada bulan Oktober waktu melakukan penanaman.
  4. Pada bulan Februari dan Maret adalah musim panen.

Untuk membuka ladang kembali, orang Dayak melihat tanda-tanda alam dan memperhatikan tanda-tanda yang diberikan oleh binatang tertentu agar tidak mengalami bencana kelaparan akibat gagal panen. Masa sesudah panen sampai membuka ladang kembali dipergunakan untuk mencari hasil hutan seperti rotan, karet, damar atau menambak sungai untuk menangkap ikan guna menambah penghasilan. Orang Dayak terkenal dengan anyaman kulit rotan yang berupa tikar, keranjang, dan topi, juga terkenal pandai dalam menenun kain atau kulit kayu.

2 comments on “Masyarakat Multikultural di Indonesia (bagian 2)

  1. Pingback: Masyarakat Multikultural di Indonesia (Bagian 4) | Portal Belajar Indonesia

Leave a Reply