suku bugis

Masyarakat Multikultural di Indonesia (Bagian 3)

Melanjutkan tulisan yang terdahulu, kami akan melanjutkan dengan bagian ke-3 tentang Masyarakat Multikultural di Indonesia. Selamat menyimak kelanjutannya. Komentar untuk berbagi pengetahuan sangat kami harapkan.

E. Di Pulau Sulawesi

1. Suku Bangsa Toraja di Sulawesi Bagian Utara

suku toraja

Suku bangsa Toraja mendiami daerah Sulawesi Selatan bagian Utara. Suku bangsa Toraja merupakan keturunan ras Melayu Tua. Suku bangsa Toraja sebagian besar masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Yang terkenal pada masyarakat Toraja adalah upacara adat menyimpan jenazah orang yang meninggal dalam gua-gua di lereng bukit yang memerlukan banyak biaya. Upacara tersebut sangat menarik para wisatawan. Mata pencaharian suku Toraja tidak jauh beda dengan suku-suku bangsa yang berada di pedalaman atau pedesaan yaitu bertani, dan perajin anyaman.

2. Suku Bangsa Bugis di Sulawesi Selatan

suku bugis

Suku bangsa Bugis merupakan salah satu dari 4 suku yang mendiami daerah Sulawesi Selatan. Perbatasan wilayah yang didiami suku bangsa Bugis adalah sebelah utara pegunungan Latimojong, sebelah timur Teluk Bone, sebelah selatan Selat Selayar dan sebelah barat Selat Makasar. Suku Bugis mendiami sebagian besar wilayah propinsi Sulawesi Selatan.

Mengenai kepercayaan, mayoritas suku Bugis beragama Islam dan lainnya beragama Kristen. Agama Islam pada masyarakat Bugis masih dipengaruhi oleh adat yang terlihat pada perkawinan, pendirian rumah dan tata cara makan. Kepercayaan yang dimiliki suku Bugis antara lain percaya adanya makhluk-makhuk halus, kekuatan-kekuatan gaib, manusia jadi-jadian, hewan-hewan tertentu yang memberi firasat suatu keadaan dan adanya hari baik hari buruk.

Mengenai kekerabatan (asseajingen) pada masyarakat Bugis terjalin melalui hubungan darah (supanglolo) dan hubungan perkawinan (siteppa-teppa). Supanglolo mempunyai peranan yang cukup besar karena menjadi tomasari, yaitu orang yang mempunyai kewajiban membela dan mempertahankan martabat keluarga apabila ada hal-hal yang mengancam. Keluarga batih pada masyarakat suku Bugis terdiri atas ayah, ibu dan anak-anaknya. Suami adalah penanggung jawab dalam keluarga sedangkan istri sebagai pengatur rumah tangga, perawat anak dan penjaga nama baik keluarga sehingga istri tidak dibebani tugas mencari nafkah.

Mengenai mata pencaharian, sebagian besar masyarakat Bugis adalah petani (pallaonruma) dan nelayan (pakkaja). Pertanian di Bugis dibedakan atas petani ladang (paddare) dan petani sawah (panggalung). Pelaksanaan pertanian masih bersifat tradisional yaitu terikat pada waktu dengan berpedoman pada tanda letak bintang di langit untuk menentukan waktu turun sawah.

3. Suku Bangsa Makassar

suku makassar

Masyarakat suku Makassar mayoritas menganut agama Islam sedangkan para pendatang dari Minahasa, Maluku dan lainnya kebanyakan beragama Kristen. Pengaruh agama Islam pada masyarakat suku Makassar meresap dalam norma-norma dan sistem kehidupannya. Sebelum agama Islam tersebar sampai di Makassar, masyarakat percaya para dewa-dewa. Mereka juga percaya pada benda-benda berkekuatan gaib serta gerak dari binatang atau tumbuhan yang memberi tanda akan terjadinya sesuatu.

Sistem kekerabatan suku Makassar dibedakan menjadi keluarga batih (sianakang) yang terdiri atas suami, istri, dan anak-anaknya. Suku Makassar mengikuti garis bilineal, artinya peran ayah dan ibu sama. Pada suku Makassar perkawinan yang paling ideal adalah sebagai berikut:

  • antara saudara sepupu derajat kesatu baik dari pihak ayah maupun ibu (pasial leang baji’na).
  • antara saudara sepupu derajat kedua baik dari pihak ayah maupun ibu (passial leanna).
  • antara saudara sepupu derajat ketiga baik dari pihak ayah maupun ibu (nipakam bani bellaya).

Suku Makassar merupakan salah satu dari keturunan Melayu Muda yang menetap pada wilayah tertentu yang disebut baerik. Menurut HJ. Friedericy, pelapisan sosial di Sulawesi Selatan ada dua yaitu ankurang atau kaum kerabat raja dan To Maradeka adalah masyarakat umum.

Mengenai sistem ekonomi, sebagian besar masyarakat Makassar memiliki mata pencaharian utama sebagai petani baik petani ladang (parako) maupun petani sawah (pammari). Cara bertani mereka masih sangat tradisional. Selain bertani suku Makassar terkenal sebagai pelaut yang tangguh. Sebelum pelaut turun laut, diselenggarakan upacara agar selamat pada waktu berangkat dan waktu pulang membawa hasil yang berlimpah. Selain sebagai nelayan, suku Makassar juga berdagang, memelihara ikan dan bekerja sebagai pegawai.

F. Di Kepulauan Maluku

1. Suku Bangsa Ambon di Maluku

suku ambon

Suku bangsa Ambon mendiami salah satu pulau dari kepulauan Maluku yaitu pulau Ambon. Letak kepulauan tersebut dibatasi pulau Irian di sebelah Timur, pulau Sulawesi di sebelah Barat, lautan Teduh di sebelah Utara dan lautan Indonesia di sebelah Selatan.

Penduduk yang umumnya tinggal di pantai adalah campuran dari penduduk asli dengan para pendatang dari berbagai pulau, misalnya orang Bugis, Makassar, Buton, dan Jawa. Penduduk asli biasanya tinggal di pegunungan.

Adanya isolasi di antara pulau-pulau menyebabkan perbedaan yang khas dalam berbagai bidang. Mengenai kepercayaan, pada umumnya masyarakat Ambon beragama Nasrani dan Islam. Juga dikenal adanya upacara cuci negeri yang hampir sama dengan upacara bersih desa di Jawa, bertujuan untuk menghidupkan hubungan dengan nenek moyang yang telah membangun baileu, sumber-sumber air dan tempat-tempat suci lainnya. Pada masyarakat Ambon terdapat dua golongan penganut yang dapat disamakan dengan penganut Islam di Jawa yaitu abangan dan santri.

Mengenai kekerabatan, didasarkan pada hubungan patrilineal, diikuti dengan pola menetap patrilocal. Kesatuan kekerabatan yang amat penting dan bersifat patrilineal adalah mata rumah atau farm yang merupakan kesatuan dari laki-laki dan perempuan yang belum kawin dan istri-istri dari laki-laki yang telah kawin. Selain kesatuan kekerabatan unilateral, dikenal kesatuan kekerabatan besar yang bersifat bilateral yaitu famili atau kondred yaitu kesatuan kekerabatan yang terdiri atas warga yang masih hidup dari mata rumah asli yakni semua keturunan keempat dari nenek moyang. Mata rumah dan famili ikut menentukan penyelenggaraan perkawinan adat.

Perkawinan pada masyarakat Ambon sifat exogami yaitu seseorang harus kawin di luar kelasnya. Dikenal 3 macam perkawinan yaitu kawin lari, kawin minta, dan kawin masuk/kawin manua, sebagai berikut:

  • Kawin lari, adalah perkawinan tanpa melalui prosedur perundingan dan upacara.
  • Kawin minta, adalah sistem perkawinan di mana keluarga pemuda minta waktu bagi kunjungan melamar.
  • Kawin masuk atau kawin manua, adalah sistem perkawinan di mana pengantin laki-laki tinggal dengan keluarga wanita.

2. Suku Bangsa Tugutil di Halmahera, Maluku Utara

 suku tugutil

Suku bangsa Tugutil menetap di pedalaman Halmahera, Maluku Utara. Pada umumnya mereka hidup terisolir dari daerah sekitarnya dan hidup sebagai petani peladang maupun peramu hasil hutan.

Mengenai kepercayaan asli masyarakat Tugutil terpusat pada roh-roh leluhur yang menempati seluruh lingkungan sekitar, baik yang bersifat alami maupun dalam benda-benda buatan manusia. Selain itu mereka juga percaya adanya kekuatan sakti yang melekat pada setiap benda yang dianggap luar biasa. Orang Tugutil mempunyai pendapat bahwa manusia terdiri atas 3 unsur pokok yang merupakan satu kesatuan yaitu Orache, Ogikiri, dan Oguru mini sebagai berikut:

  • Orache, artinya tubuh fisik atau badan jasmani manusia.
  • Ogikiri, artinya nyawa manusia.
  • Oguru mini, artinya jiwa, semangat, martabat atau harga diri yang melekat pada kehidupan manusia.

Pada orang Tugutil dikenal adanya upacara untuk melakukan penghormatan roh leluhurnya dengan tujuan agar mereka dibantu dan dilindungi. Dikenal juga adanya upacara memasak goanga yaitu memasak untuk disajikan para roh-roh leluhur yang dilakukan pada saat sembuh dari penyakit, kelahiran, perkawinan dan sebagainya.

Keluarga inti pada orang Tugutil disebut o tau moi ma nyawa (orang satu rumah) merupakan kesatuan sosial terkecil dan paling fundamental. Pada dasarnya orang Tugutil tidak membuat perbedaan yang tegas antara garis pria dan wanita dalam menentukan kelompok kerabatnya. Yang dianggap sebagai anggota kelompok kerabat dekat adalah seluruh keturunan ego yang berada pada batas dua generasi ke atas dan dua generasi ke bawah baik dalam keturunan satu garis maupun keturunan menyamping dan keturunan yang diangkat. Mengenai sistem perkawinan, tidak ada ketentuan yang pasti dan jelas tetapi orang Tugutil melarang perkawinan antar kerabat dekat.

Larangan perkawinan antar kerabat dekat disebut ho mahoko ma bohomo atau inces. Mengenai sistem kemasyarakatan pada dasarnya orang Tugutil merupakan kumpulan dari sejumlah keluarga inti yang masing-masing dapat bergerak atau bertindak relatif bebas dalam semua bidang kehidupan sehari-hari di bawah pimpinan dan tanggung jawab o dimono (orang tua) masing-masing. Orang Tugutil mengenal dua macam pimpinan yang memiliki kekuasaan dan kewenangan terbatas di bidangnya masing-masing yaitu:

  • O kapital, artinya pemimpin yang mengurusi keamanan pada umumnya.
  • O adati mahaeke, artinya pemimpin yang mengurusi orang Tugutil selalu menghormati dan tunduk kepada kedua pemimpin tersebut khususnya dalam hal-hal yang sesuai dengan bidang urusan mereka masing-masing.

Mengenai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka diantaranya memukul sagu (makanan pokok orang Tugutil), berburu, menangkap ikan, dan sebagainya. Pada umumnya orang Tugutil memukul sagu hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan sehari-hari. Berburu binatang hutan juga merupakan mata pencaharian pokok. Mereka juga telah mengenal dan melakukan usaha berkebun secara sederhana di sekitar pemukiman yang selalu berpindah. Dalam berkebun mereka menanam pisang, ketela pohon, ubi jalar, pepaya, kebun kelapa. Di samping itu mereka juga biasa mendapatkan beberapa kebutuhan hidup dari orang kampung lainnya.

Masyarakat suku Tugutil juga mengenal sistem perekonomian immediate return, yaitu sistem ekonomi yang berorientasi kuat pada kebutuhan masa sekarang semata. Jadi orang Tugutil cenderung tidak menyimpan kelebihan bahan makanan untuk persediaan.

Leave a Reply