suku sabu

Masyarakat Multikultural di Indonesia (Bagian 4)

Menyambung artikel saya yang ini, kemudian ini, dan itu, hehehehe… maka artikel ini adalah yang keempat (yang terahir). Masih berkaitan dengan Masyarakat Multikultural di Indonesia yang kaya akan budaya daerah ini. Dan saya jamin, gak ada duanya di dunia ini, kalau tidak di Indonesia tentunya.

G. Di Kepulauan Nusa Tenggara

1. Suku Bangsa Flores di Pulau Flores

suku floresPenduduk suku bangsa Flores sebenarnya tidak satu suku bangsa dengan kebudayaan yang seragam tetapi paling tidak ada 8 sub suku bangsa yaitu: orang Manggarai, orang Riung, orang Ngada, orang Nagekeo, orang Ende, orang Lio, orang Sika, dan orang Larantuka. Penduduku Flores mulai dari orang Riung hingga makin ke Timur menunjukkan lebih banyak ciri-ciri Melanesia seperti penduduk Irian, sedangkan orang Manggarai di bagian paling Barat pulau Flores menunjukkan ciri-ciri Mongoloid-Melayu.

Pulau Flores merupakan salah satu pulau dari deretan kepulauan wilayah provinsi NTT yang terdiri atas kepulauan Flores, Sumba, kelompok kepulauan Tanimbar. Sedangkan kepulauan Flores terdiri atas pulau Flores sebagai induk yang dikelilingi oleh pulau Komodo, Rince, Ende, Solor, Adonara, dan Lomblen.

Mengenai sistem kekerabatan dan perkawinan sebagian besar warga masyarkat pedesaan di Manggarai adalah perkawinan antara pemuda dan pemudi berdasarkan saling mencintai. Bagi orang Manggarai perkawinan adat yang paling ideal adalah perkawinan dengan seorang anak wanita saudara pria ibu yang disebut perkawinan tungku. Pada perkawinan tungku masyarakat Manggarai dikenal beberapa macam bentuk perkawinan sebagai berikut:

  1. Kawin lari atau kawin noko, adalah perkawinan yang terjadi jika pemuda tidak mampu membayar mas kawin yang tinggi dan tidak mendapat persetujuan dari keluarga si gadis.
  2. Perkawinan Levirat atau perkawinan liwi, adalah seorang laki-laki dengan seorang janda dari adik atau kakak laki-laki yang meninggal.
  3. Perkawinan Soroat atau Timu Lalo, adalah perkawinan seorang perempuan dengan seorang duda dari adik atau kakak perempuan yang meninggal.
  4. Perkawinan Duduk, yaitu perkawinan yang terjadi karena pemuda bekerja pada orang tua dari si gadis yang menjadi idamannya untuk jangka waktu tertentu karena tidak mampu membayar mas kawin.

Kelompok kekerabatan di Manggarai yang paling kecil dan berfungsi paling intensif sebagai kesatuan dalam kehidupan sehari-hari di dalam rumah tangga atau di ladang dan kebun adalah keluarga luas yang verilokal (kota).

Mengenai sistem perekonomian, bercocok tanam di ladang merupakan mata pencaharian utama orang Flores. Tanaman pokok yang ditanam di ladang-ladang adalah jagung dan padi. Selain bercocok tanam, beternak juga merupakan suatu mata pencaharian yang penting. Binatang ternak yang paling banyak dipelihara adalah kerbau dan kuda, selain sebagai harta juga digunakan untuk membayar mas kawin.

2. Suku Bangsa Sabu di Nusa Tenggara Timur

suku sabuMasyarakat Sabu menempati sebuah pulau yang masuk dalam wilayah Kabupaten Kupang yang disebut pulau Sabu atau Sawu atau Rai Hawu. Pulau perkampungan orang Sabu dinamakan Rae Kowa (kampung perahu). Dengan bentuk kampung bagai elips, dibangun pemukiman yang secara tradisional terhimpun dalam suatu kelompok pemukiman patrilokal. Dengan konsep kampung tersebut maka di Sabu dikenal kampung indah (rae kapure) atau kampung asal, kampung pangkal dan kampung rae saja. Selain itu ada pula kampung kecil yang terdiri dari rumah-rumah di ladang dan ada pula kandang hewan (kerbau dan kambing).

Mengenai kepercayaan orang Sabu percaya akan deo yang terdiri dari 3 pembagian yaitu deo wie, deo wero, dan deo menggaru, sebagai berikut:

  1. Deo Wei, pengatur dan pemelihara segala yang diciptakan.
  2. Deo Wero atau Pamugi, sebagai pencipta alam semesta.
  3. Deo Menggaru, sebagai pengatur keturunan makhluk di dunia.

Masyarakat Sabu mengenal beberapa upacara yang berkaitan dengan peralihan hidup seorang manusia, diantaranya sebagai berikut:

  1. Upacara Hapo Kebake, yaitu menyambut perut saat kehamilan 3 bulan dengan menyembelih hewan kurban.
  2. Lodo Ki’l Panas, yaitu rangkaian upacara kelahiran dan menutup kembali pintu panas (kesulitan waktu melahirkan).
  3. Pejio Dabe, yaitu upacara pemandian (untuk memandikan anak kira-kira berumur 1 tahun).
  4. Upacara Sunat dan Pasah Gigi, untuk menunjukkan bahwa anak sudah dewasa.
  5. Upacara kematian.

Mengenal sistem perkawinan, orang Sabu mengenal pola perkawinan secara umum sebagai berikut:

  1. Meminang, yaitu meminta gadis secara adat agar meninggalkan keluarga dan menjadi istri resmi.
  2. Kawin lari, yaitu laki-laki membawa lari gadis ke rumah keluarga.
  3. Kawin mengabdi, yaitu si gadis tidak bisa untuk meninggalkan keluarga karena anak tunggal atau si lelaki tidak bisa membayar mas kawin.

Proses perkawinan dilakukan menurut tahap-tahap muali dari peminangan sampai perkawinan resmi yang dipimpin oleh pemimpin upacara.

H. Di Pulau Papua (Irian Jaya)

1. Suku Bangsa Dani di Lembah Baliem

suku daniSuku Dani bermukim di Lembah Baliem. Sebenarnya bukan penduduk asli lembah tersebut, tetapi merupakan sebutan orang Moni penduduk Dataran Tinggi Pinai untuk menyebut penduduk lembah Baliem. Sebutan Dani artinya orang asing, yang mula-mula berbunyi Ndani. Penduduk lembah Baliem sendiri tidak mau menggunakan sebutan Dani. Mereka menyebut dirinya dengan sebutan Nit (akuni) Palimeke yang artinya kami (orang) dari Baliem. Seluruh penduduk lembah Baliem menggunakan satu bahasa yaitu bahasa Dani. Logat Dani bagian barat seringkali disebut bahasa Laany dan digunakan oleh penduduk Baliem Utara, Lembah Swart, Yamo Illaga, Beoge, Dundilagu, Kemandaga, dan Bokondini, bagian atas dari lembah besar sekitar hulu sungai Hablifuri, sungai Kimbin, dan Lembah Bele (Ibele). Bahasa Dani termasuk dalam kategori Western Highland Pylum, yakni salah satu keluarga bahasa-bahasa non Austonesia di Papua (Irian Jaya) dan Papua Nugini.

Suku Dani menempati suatu lembah besar di tenga-tengah pegunungan Jayawijaya yaitu lembah Baliem yang memanjang lebih kurang 45 Km dan lebar 15 Km, dengan ketinggian 1.600-3.000 Km di atas permukaan air laut, dan rata-rata suhu 14,4 derajat Celcius. Suku Dani juga termasuk ras Melanesia seperti penduduk Papua lainnya.

Mengenai kepercayaan, suku Dani sangat menghormati roh nenek moyang. Orientasi dan konsep-konsep serta kegiatan keagamaan lainnya ditujukan pada kesejahteraan hidup dan peperangan. Konsep keagamaan yang terpenting yaitu kekuatan sakti para nenek moyang yang diturunkan secara patrilineal. Upacara keagamaan suku Dani dipusatkan pada pesta babi dengan tujuan untuk mensejahterakan keluarga dan semua warga masyarakat untuk mengawali perang serta mengakhiri perang. Upacara lain adalah upacara inisiasi anak laki-laki (waya hagatalin), upacara untuk anak wanita ketika mengalami haid pertama (eked-web) dan upacara kematian dengan pembakaran jenazah.

Mengenai kekerabatan, kelompok kekerabatan terkecil dalam masyarakat suku Dani adalah keluarga luas yang terdiri atas dua atau tiga keluarga inti saudara sekandung jenis pria yang bersama-sama mereka menghuni suatu kompleks. Suku Dani memperhitungkan garis keturunan melalui garis bapak (patrilineal), mereka mengakui kekerabatan masing-masing sampai 6 atau 7 keturunan.

Ada masyarakat Dani melarang perkawinan antar orang satu klan, jadi pola perkawinan yang dianut bersifat exogami yaitu seorang pemuda suku Dani dapat memilih calon istrinya sendiri namun harus di luar ukul (klan) bahkan dapat juga di luar ebenya atau parohnya (bagian keseluruhan klan).

Unsur-unsur penting dalam upacara perkawinan suku Dani adalah sebagai berikut:

  1. Merias mempelai wanita (yokal isin).
  2. Upacara menjemput mempelai wanita yang dilakukan mempelai pria bersama rombongan.
  3. Upacara makan daging babi yang dilakukan kedua mempelai di tempat tinggal mempelai pria (wampalek palin).
  4. Upacara sewaktu pasangan mempelai masuk ke dalam rumah ebe-ebe untuk tidur.

2. Suku Bangsa Asmat di Papua

suku asmatSuku bangsa Asmat bertempat tinggal di daerah dataran rendah yang berawa-rawa dan berlumpur di daerah sepanjang pantai yang luas, tertutup oleh hutan rimba tropis dengan didominasi pohon-pohon mangrove dan hutan sagu. Suku Asmat yang menempati daerah hulu-hulu sungai disebut Asmat Hulu, sedangkan yang menempati hilir sungai disebut Asmat Hilir.

Mengenai sistem kepercayaan, suku Asmat memiliki keyakinan bahwa mereka adalah keturunan dewa yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk tempat matahari terbenam. Menurut mitologi orang Asmat yang berada di teluk Flaminggo, dewa itu bernama Fumeriptis. Mitos tentang dewa Fumeriptis melambangkan proses daur ulang hidup dan mati.

Orang Asmat mempercayai adanya 3 golongan roh di lingkungan tempat tinggal manusia sebagai berikut:

  1. Yi-ow, yaitu roh nenek moyang yang bersifat baik terutama bagi keturunannya.
  2. Osbopan, yaitu roh jahat yang menghuni beberapa jenis pohon tertentu dan gua-gua.
  3. Dambin-ow, yaitu roh jahat orang yang mati konyol.

Dalam kehidupan orang Asmat banyak diisi dengan berbagai upacara. Upacara yang sifatnya besar adalah yang menyangkut seluruh komunitas desa, roh nenek moyang, diantaranya sebagai berikut:

  1. Mbismbu, adalah pembuatan tiang mbis atau patung nenek moyang.
  2. Yentpokmbu, adalah pembuatan dan pengukuhan rumah yew.
  3. Tsyimbu, adalah pembuatan dan pengukuhan perahu lesung.
  4. Tamasy Pokumbu, adalah upacara perisai.
  5. Mbipokumbu, adalah upacara topeng.

Upacara tersebut biasanya memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Mengenai upacara kematian, orang Asmat menganggap kematian bukan merupakan hal yang alamiah. Mereka menganggap kematian terjadi kalau tidak dibunuh.

Mengenai sistem kekerabatan, jaman dahulu suku Asmat hidup semi nomad, namun sekarang mereka tinggal di perkampungan di mana setiap kampung terdiri atas beberapa rumah bujang tempat segala kegiatan desa dan upacara adat dipusatkan. Populasi suatu kampung umumnya mencapai 100 – 1.000 jiwa. Tiap-tiap kampung biasanya memiliki daerah sagu dan daerah ikan yang merupakan sumber makanan bagi seluruh warga kampung.

Dalam satu rumah, hidup 2 – 3 keluarga kerabat terdekat (extended family),dimana setiap keluarga memiliki tungku perapian sendiri-sendiri. Pola hidup mereka masih sederhana sekali. Meskipun begitu mereka telah memiliki pembagian kerja. Dalam masyarakat Asmat, kaum wanita yang bekerja mencari dan mengumpulkan makanan, sedangkan kegiatan kaum laki-laki terpusat di rumah bujang antara lain membuat dan mengukir perisai, tombak, panah, dan sebagainya.

Dasar organisasi sosial masyarakat Asmat adalah keluarga inti monogami kadang poligami dan tinggal bersama dalam rumah panggung kecil seluas 3m x 5m x 4m yang disebut sistem. Mengenai sistem politik dan kemasyarakatan, suku Asmat mengenal struktur paruh masyarakat atau aipem. Fungsi aipem adalah untuk meningkatkan kualitas masyarakat dengan saling mengawasi atau dengan persaingan. Dalam memilih seorang pemimpin, suku Asmat memilih orang yang dianggap lebih pandai dan lebih ahli dalam suatu pekerjaan atau aktivitas sosial tertentu. Selain pemimpin, ahli lain yang dianggap lebih terhormat adalah seniman pahat patung atau wow-ipits.

Mengenai sistem perekonomian, diawali dengan adanya proyek pembangunan yang dilakukan oleh cabang perusahaan Imex Lumber Trade Company dari Belanda, yang kemudian diteruskan oleh pemerintah Indonesia yaitu sesudah tahun 1963. Pembangunan ekonomi masyarakat suku Asmat didasarkan pada ekspor dan industri perkayuan, yang terus berlangsung dengan pesat tetapi menimbulkan dampak negatif yaitu berupa perusakan lingkungan hutan sehingga mendapat kritikan dari luar negeri baik secara ilmiah maupun politik. Untuk itu pemerintah mengupayakan suatu bentuk pengendalian dengan berbagai peraturan yang mendorong pelestarian lingkungan alam.

Upaya pembangunan masyarakat suku Asmat mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan secara cepat tetapi kesejahteraan orang Asmat kurang terpenuhi sehingga ketimpangan sosial menyebabkan ketidakpuasan sebagian besar masyarakat suku Asmat. Sikap tidak puas tersebut menimbulkan gerakan menentang perubahan yang dikenal dengan Gerakan Raja Bumi. Dengan memperhatikan kedua dampak negatif tersebut maa sebaiknya peningkatan kesejahteraan masyarakat Asmat dilaksanakan melalui kebijakan memperhatikan kehendak masyarakat suku Asmat sendiri dan mempergunakan potensi serta sumber daya lokal.

One comment on “Masyarakat Multikultural di Indonesia (Bagian 4)

Leave a Reply