Pemuda yang Siroja muniro

Menjelang dhuhur, pemuda itu masih meneruskan perjalannya, menuju kampung Bojong. Jaraknya cukup lumayan ± 12 km dari tempat pertama kali dia turun dari colt penumpang itu. Tentu saja proyek INPRES belum masuk ke kampung miskin ini, sehingga dia harus waspada sepanjang jalan menyusuri pematang yang sangat licin karena hujan rintik yang belum lagi berhenti.

Kampung Bojong…kampung miskin, sebagaimana banyak kampung di Negara kita. Para pemudanya pada siang hari bekerja di kota sebagai tukang kasar, sedang wanitanya sibuk bekerja di sawah atau kebun-kebun yang walaupun ada hujan tetap gersang itu.

Kegiatan hari-hari,,,,adalah sebuah kampung yang sepi…dan tanpa variasi…. Malam harinya hanya ada keluh kesah dalam buaian ketidak menentuan akan hari esok. Tapi sejak pemuda itu rajin datang di kampung tersebut, sedikit perubahan telah terjadi…tetapi sangat pasti.

 

Seperti hari – hari yang lalu, pemuda itu sudah dikerubungi oleh anak-anak tanggung, sesekali ada juga orang-orang yang sudah tua datang nimbrung.  Acara hari ini , pelajaran raraban…..alif….ba….ta….tsa….. Mulailah kampung sepi itu, diramaikan dengan nyanyian merdu raraban bacaan Qur’an dan tentu saja Shalawat Nabi.

 

Malam tiada lagi terisi untuk sebuah keluh kesah, karena ayah dan ibu bisa mendengarkan estafetan cerita tentang kisah para anbiya yang berbudi luhur. Sebuah kisah yang hampir terkubur karena kelelahan dan kemiskinan yang telah membaur. Seperti tersentak kembali, ruh penghuni Bojong …mulai bangkit,…orang tua kembali membuka kitab.

 

Suasana telah menjadi berubah. Di sebuah lumbung terdengar orang-orang wiridan, karena sejak pemuda itu hadir, lumbung kampung yang tua tersebut telah dirubah menjadi MUSHALLA…. Pemuda itu telah berjasa ‘memantulkan sebuah cahaya, dia telah tampil, sebagai SIROJA MUNIRO…!

 

Tidak ada wartawan yang membuntutinya, tidak ada kamera TV yang membuat shoting dirinya. Dia hanya pamrih, biarlah wartawan setia dan amanah di kiri dan kanan jiwanya yang akan mengabadikan amalnya itu, biarlah kamera ukhriwi yang mengambil adengan di dirinya untuk dipertanggungjawabkan di hadapan MALIKI YAUMIDIN.

 

Tugas hari itu sudah selesai. Setelah ashar berjama’ah dengan para bocah dan orang udzur, ia pamit dan dihantar ramai-ramai sampai batas kampung yang ditandai sebuah pohon randu…! Tuan-tuan…itulah dakwah !… Tidak, tidak sama sekali, bahwasannya dakwah itu hanya bertelekan tongkat berukir seraya berbuih lidah diatas mihrab.

 

Sungguh banyak hal yang dapat kita berikan kepada Allah… Dan pemuda itu, di sela-sela kesibukannya kuliah di kota, dia menyempatkan dirinya”MENDIDIK” para dhuafa yang haus akan ajaran dan kebenaran.

 

TUAN….. Rasullulloh berkata : Innama tunsyaruna waturzakuma illa bi dhuafa minkum….

Datangilah juga orang-orang yang lemah diantara kamu, gembirakanlah ..hiburlah mereka dengan cahaya benderang risalatullah kubro. Saya begitu optimis, bahwasannya Demi Allah…akan ada diantara kita yang berjuang untuk dakwah.  Sebab hanya dengan tegaknya agama ini hanya dengan DAKWAH….

 

Atau memang sudah ada yang telah anda lakukan ? beritahukanlah kepada kami (Labment) sehingga dapatlah kami menularkan amal shalih ini kepada para ikhwan anggota jamaah kita dimanapun berada.

 

LISANUL HAL AFSOHU MIN LISANUL MAQOLI”

 

Bakerjalah untuk ALLAH,…….!

 

Leave a Reply