Penulisan Narasi, Eksposisi, dan Argumentasi

Penulisan paragraf dapat dilakukan dengan menggunakan jenis paragraf narasi, argumentasi, persuasi, deskripsi, maupun eksposisi. Penulisan paragraf harus disesuaikan dengan tujuan. Jika akan menulis cerita, yang tepat dengan menggunakan paragraf narasi, untuk menulis karya ilmiah lebih cocok dengan menggunakan paragraf argumentasi. Persuasi lebih tepat untuk menulis sesuatu hal yang berkaitan dengan ajakan atau himbauan. Sedangkan untuk menggambarkan sesuatu hal digunakan paragraf deskripsi, dan paragraf eksposisi untuk menjelaskan atau memaparkan sesuatu.

1. PARAGRAF NARASI
Narasi merupakan sebuah karangan atau wacana yang menyampaikan makna atau amanat secara tersirat. (Gorys Keraf, 2000:138-139). Dengan makna secara tersirat inilah akan menimbulkan daya imajinasi. Penalaran dipakai sebagai alat untuk menyampaikan makna. Sedangkan bahasanya cenderung bersifat konotatif. Jadi, tidak sepenuhnya benar bahwa narasi adalah cerita tentang suatu peristiwa. Dalam menulis karangan narasi harus cermat. Sebagai penanda penting karangan narasi adalah konflik. (Marwoto dkk., 1987: 152).

Narasi dapat digunakan untuk karangan cerita jenis fiksi maupun cerita nonfiksi. Narasi untuk cerita nonfiksi, misalnya cerita perjuangan pahlawan, riwayat atau laporan perjalanan, biografi, autobiografi. Sedangkan yang termasuk cerita fiksi, misalnya cerpen, novel, roman, dan lain-lain.

Contoh narasi nonfiksi (didasarkan pada kisah/peristiwa nyata).
Pada hari Sabtu, 27 Mei 2006 terjadi gempa tektonik yang menggoncang DIY dan Klaten, Jawa Tengah. Goncangan gempa itu terjadi selama kira-kira sepuluh detik. Gempa bumi yang berkekuatan 5,9 Skala Richter itu, meski hanya berlangsung beberapa detik sudah cukup untuk menghancurkan rumah-rumah dan bangunan lainnya. Ribuan orang meninggal karena runtuhan bangunan. Ada pula yang luka parah, bahkan cacat seumur hidup. Ratusan ribu keluraga kehilangan tempat tinggal. Mereka terpaksa tidur di tenda-tenda darurat.

Contoh narasi fiksi (berdasarkan khayalan belaka):
Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggalah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang mereka sukai. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti dinding atau lantai malam hari. (dikutip dari cerpen Robohnya Surau Kami, karya A.A.Navis).

Sebuah paragraf narasi harus memiliki gagasan pokok yang didukung oleh gagasan pendukung penjelas yang diwujudkan dalam bentuk kalimat-kalimat pendukung/penjelas. Kalimat-kalimat tersebut berupa rangkaian perbuatan/tindakan yang diurutkan berdasarkan urutan waktu dan tempat terjadinya atau berlangsungnya peristiwa/perbuatan tersebut.

Paragraf narasi ada dua macam, yaitu paragraf narasi ekspositoris dan paragraf narasi sugestif. Paragraf narasi ekspositoris yaitu paragraf yang berisi tentang rangkaian peristiwa tersebut dengan jelas. Sedangkan narasi sugestif adalah paragraf yang berisi tentang rangkaian peristiwa yang disusun semenarik mungkin sehingga merangsang daya khayal pembaca terhadap peristiwa tersebut.

Paragraf narasi ekspositoris bersifat memberikan penjelasan menginformasikan kepada pembaca tentang suatu peristiwa atau perbuatan. Jadi bertujuan untuk menumbuhkan imajinasi pembaca untuk berkhayal. Sebaliknya untuk paragraf narasi sugestif. Paragraf sugestif ini dibuat bertujuan untuk memancing daya imajinasi atau daya khayal pembaca.

Perhatikan contoh berikut!
a. Paragraf narasi ekspositoris
Siang ini aku dihukum lagi oleh ayahku. Gara-garanya aku menyelinap ke luar pada saat bu guru dan teman-temanku berdoa untuk pulang. Aku pikir mereka tidak akan melihatku karena mereka berdoa sambil menunduk dan memejamkan mata. Begitu aku sampai di luar kelas, tenyata ayahku telah siap menjemputku pulang. Aku kelabakan karena terkejut dan panik sehingga aku lari masuk ke dalam kelas. Celakanya aku disekap bu guru tidak boleh pulang, sementara teman-temanku pulang dengan tertawa-tawa melihatku ketakutan. Aku lebih takut lagi ketika ayahku turut masuk ke dalam kelas. Aku akhirnya menangis.

b. Paragraf narasi sugestif
Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya terlihat seperti belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalanya tegak seperti orang maharani yang angkuh. Di Rembang, di sekitar tahun tiga puluhan ia lebih terkenal daripada pendeta Odborn pada pertengahan tahun 1954 di Jakarta karena prestasinya menyembuhkan orang-orang sakit secara gaib. Di tinjau dari sudut-sudut tertentu, cara pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Titik pangkalnya suatu anggapan yang logis. Mbah Danu menegaskan bahwa orang sakit itu “didiami” oleh roh-roh jahat karena itu, cara satu-satunya untuk menyembuhkan adalah dengan menghalau makhluk yang merugikan kesehatan itu.

Leave a Reply